Dr. Ir. H. Nurmahmudi Isma’il, M.Sc – Pioner dan Teladan – Pelepas Rangkap Jabatan

IMG_2140[1]


Pendahuluan

Mendengar nama Nur Mahmudi, yang akrab dipanggil Pak Nur, publik teringat dengan keterlibatannya pada kabinet bentukan Abdurrahman Wahid pada tahun 1999-2001. Pada masa yang singkat itu, terukir prestasi yang tidak terlupakan oleh banyak kalangan. Berhasil menyelamatkan lebih dari Rp 8 triliun uang negara dan memenjarakan seorang konglomerat bermasalah di negeri ini. Belum lagi, gaya kepemimpinannya yang egaliter, aspiratif, dan inspiratif membuat potensi SDM departemen yang dipimpinnya tergali dan termanfaatkan secara optimal.

Sejarah lain diciptakan saat seluruh rakyat Indonesia menuntut terjadinya reformasi kepada para pimpinan parpol, agar tidak merangkap dengan jabatan eksekutif. Memahami tuntutan rakyat dan sejalan dengan ide profesionalisme manajemen lembaga publik, ketika mendapat amanah menjadi Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI, Pak Nur dengan sukarela mengundurkan diri dari Presiden Partai Keadilan. Sikapnya yang… telah membuat kalangan elit politik dan pengamat terperanjat dan heboh hingga melahirkan multi-interpretasi di berbagai media, sementara rakyat Indonesia melanjutkan tuntutannya agar para pimpinan parpol lain yang menjabat eksekutif segera mengikuti jejak Pak Nur. Tampaknya jabatan di parpol masih dianggap kendaraan dan tumpuan elit meskipun telah menjabat eksekutif, sehingga sejak tahun 2000 sampai 2004 belum ada pejabat eksekutif yang rela melepaskan diri dari pimpinan parpol. Baru akhir 2004, saat Dr. H. Muhamad Hidayat Nurwahid, MA menerima amanah sebagai Ketua MPR RI, dia mengikuti jejak Pak Nur secara sukarela mengundurkan diri dari Presiden Partai Keadilan Sejahtera yang digantikan oleh Ir. Tifatul Sembiring sebagai Pjs. Presidennya.

Kini, tonggak sejarah kedua tercipta kembali. Partai Keadilan Sejahtera mengamanatkan Pak Nur untuk menjadi Walikota Depok, pemerintahan kota pertama di Indonesia yang melaksanakan pemilihan kepala daerah langsung, sekaligus ukiran sejarah bagi aura demokrasi yang bertiup kencang di negeri ini. Kesediaan Pak Nur, sang tokoh nasional, untuk melayani warga Depok telah menumbuhkan banyak simpati berbagai kalangan dan harapan masyarakat akan membaiknya kualitas pemerintahan daerah di era otonomi.

Belajar untuk Memahami

Pagi masih merangkak. Adzan Subuh masih belum terdengar, ketika seorang pria baya berbatik coklat hitam dan bersorban keluar dari rumahnya. Ia berangkat menjemput panggilan Allah berdakwah di daerah Kalibaru, Sukmajaya yang jauh dari pusat keramaian kota. Jalan yang berkelok-kelok, berlubang, berbatu dan semakin mengecil tak menyurutkan langkah pria tersebut, Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Isma’il, M.Sc, untuk mengikuti acara Subuh keliling yang digagas pengurus beberapa masjid di daerah Kalibaru.

Setelah matahari merangkak naik, Pak Nur –panggilan akrab Nur Mahmudi– terus meluncur menuju Mekar Sari, Sukmajaya. Di sana, ia sudah ditunggu para kader yang kemudian membawanya berkeliling dan bercengkrama dengan pengunjung dan pedagang pasar pagi di Jalan Merdeka. Seharian penuh, Ahad, 27 Maret itu dihabiskannya dengan berkeliling ke setiap undangan yang datang padanya.

Begitulah kegiatan sehari-hari calon walikota Depok yang diusung oleh PKS dan berbagai elemen masyarakat Depok yang tergabung dalam koalisi perubahan itu. Hadir dan memberi taushiyah pada majlis-majlis ta’lim, kunjungan tokoh, tak jarang makan bersama dengan berbagai komunitas masyarakat, termasuk warung pecel dan bubur di pinggir jalan. Hari-harinya diisi acara bersilaturrahim dengan berbagai macam pihak. Di tengah padatnya acara yang melelahkan itu, dengan senyum, Ia menyebut kegiatan yang dijalani ini sebagai proses ”Belajar untuk Memahami”. Memahami kondisi, permasalahan dan kebutuhan masyarakat serta dinamika yang terjadi di dalamnya.

Dalam setiap kesempatan silaturrahin itu, santri sebuah pesantren di Kediri yang segan disebut kyai itu, mengingatkan akan pentingnya peran seorang muslim untuk berguna bagi sebanyak mungkin manusia yang lain. Penunjukannya sebagai calon walikota depok juga tidak terlepas dari kerangka berguna bagi orang lain itu, di mana pun posisinya; baik sebagai menteri, walikota atau rakyat biasa. Baginya, biasa saja seorang mantan menteri seperti dirinya dicalonkan menjadi walikota, karena di sisi Allah yang dinilai adalah peran dirinya untuk bermanfaat bagi sebanyak mungkin manusia.

Karir Politik yang Mengejutkan

Sebenarnya, Nur Mahmudi termasuk pendatang baru dalam dunia politik. Namun karyanya cukup memberikan warna dalam dunia perpolitikan Indonesia ini, membuatnya seakan telah hidup sekian lama. Pak Nur bagai oase di padang pasir yang tandus. Memberikan kesejukan dan harapan bagi sebagian besar rakyat Indonesia di tengah-tengah wabah korupsi yang merajalela dan membudaya.

Ayah tiga anak ini memulai karir politik atas dukungan teman-teman dakwahnya dengan ditunjuk sebagai Presiden oleh jajaran pengurus Partai Keadilan pada tahun 1999. Tugas berat langsung menghadang. Partai Keadilan sebagai partai baru yang dituntut untuk mampu eksis dalam kancah perpolitikan multipartai di era reformasi tersebut. Saat itu Pak Nur menjadi motivator dan inspirator bagi para kader di seluruh daerah untuk berjuang dan berkorban. Hasilnya, dalam waktu kurang dari setahun, partai baru ini berhasil meraih simpati hampir satu setengah juta rakyat Indonesia dan menempatkan 7 orang wakilnya di DPR RI serta 190-an kader terbaiknya di DPRD I dan II di seluruh Indonesia.

Dia amat peduli, terbentuknya ratusan partai dan terseleksinya 48 partai peserta pemilu bukan menjadi pemicu terjadinya disintegrasi bangsa dan pecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka, dia membangun komunikasi dengan partai-partai lain, aktif dalam forum antar agama, dan mempelopori terjalinnya Forum Silaturahim Partai-Partai Islam. Perjuangannya yang gigih untuk menghargai suara yang hilang dari berbagai partai dilakukan dengan membentuk Stambush Accord antar beberapa partai. Inovasi spektakuler telah dilakukan oleh Pak Nur bersama Amien Rais dan Hamzah Haz mendeklarasikan poros tengah hingga mengantarkan Abdurrahman Wahid Wahid menjadi Presiden RI dan Amien Rais menjadi Ketua MPR RI. Bukan hanya itu, Partai Keadilan juga secara fenomenal menempatkan Nur Mahmudi, sang presiden partai, sebagai Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Pada masa yang singkat itu, beliau mencapai prestasi besar dengan menyelamatkan uang negara berupa dana non-budgeter di lingkungan Dephutbun lebih dari 8 triliun rupiah. Uang tersebut harus dikumpulkan satu persatu dari sekitar 40 rekening yang terpisah untuk diserahkan kepada rekening Departemen Keuangan. Hal itu dilakukannya dengan membuat sistem yang bersih dalam pengelolaan departemen yang dipimpinnya. Pada saat itu pula, beliau menjadi satu-satunya menteri yang berhasil menyeret dan mengadili para koruptor dan penyeleweng keuangan negara, salah satunya adalah dengan memenjarakan Bob Hasan dan vonis 4 tahun penjara yang dijatuhkan pengadilan kepada Probosutejo.

Ulama yang intelek dan intelek yang ulama

Selain menjadi politisi, Nur Mahmudi dikenal publik sebagai seorang ulama. Ia memulai basis pendidikannya sebagai seorang santri di salah satu pesantren Nahdhatul Ulama, Pondok Pesantren Salafiyah, Al-Ishlah pimpinan KH Thoha Mu’id, di Bandar Kidul, dekat Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Di pesantren inilah Pak Nur mendapatkan dasar pendidikan keislaman bernuansa Nahdliyin. Sholat berjamaah, sholawat, dzikir dan tahlil menjadi bagian dari keseharian dirinya.

Dasar pendidikan Islam itu dikombinasikannya dengan keilmuan umum dengan melanjutkan studinya ke Institut Pertanian Bogor (IPB) hingga mendapatkan gelar S-1 di bidang Teknologi Pangan dan Gizi. Setelah itu, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi ke Texas A&M University, Amerika Serikat sampai meraih gelar S-2 dan S-3. Kedua gelar itu, diraihnya dengan predikat cum-laude di bidang ilmu teknologi pangan.

Perpaduan pendidikan dua kutub ilmu terpatri dalam dirinya, dan menjadikannya satu dari sedikit ulama yang menguasai bidang sains dan satu dari sedikit ilmuwan yang menguasai ilmu Islam. Tak heran jika pimpinan Muhammadiyah Depok, KH. Wazir Nuri, ketika menerima kunjugan Pak Nur di MUI Depok, menyebutnya sebagai ”ulama yang intelek dan intelek yang ulama”.

Pendidikan tinggi yang memadukan keilmuan dengan keulamaan inilah yang membuat Pak Nur diterima oleh semua kalangan. Baik NU maupun Muhammadiyah. Pak Nur tidak mempermasalahkan perbedaan furu’iyah dalam masalah ibadah. Prinsip beliau, mengikut sebuah hadits Rasulullah SAW, ”Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling bermanfaat buat orang lain”.

Saat ini, di tengah kesibukannya menjadi seorang Ahli Peneliti Madya bidang Agroindustri dan Kebijakan Publik di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan menulis seabrek karya ilmiah yang dipublikasikan baik oleh media nasional maupun internasional, Pak Nur tetap menjalankan fungsinya sebagai seorang ulama, mengisi pengajian di kantor-kantor pada ba’da sholat Dzuhur, khutbah Jum’at, dan kajian ilmiah di beberapa Perguruan Tinggi. Di tengah aktivitas itu pula, ia masih menyempatkan diri menjadi salah seorang dosen Metode Riset dan Statistik Pendidikan di IIQ (Institut Ilmu Al-Qur’an). Sang istri yang hafidzoh (hafal seluruh Al-Qur’an) juga menjadi dosen di lembaga yang sama.

Sang Istri Yang Hafal Seluruh Al-Qur’an

Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah istri yang sholihah. Begitulah sabda Rasulullah SAW memuji suami yang memiliki istri yang sholihah dan memuliakan wanita yang menjaga kualitas dirinya. Dalam hadits lain, Rasulullah juga menyebutkan bahwa wanita adalah tiang Negara, jika baik Wanita, maka baiklah Negara itu.

Adalah Dra. Hj. Nur Azizah Tamhid, MA., istri yang setia mendampingi kehidupan Pak Nur selama ini. Lahir di Blitar, Jawa Timur, Lulusan Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng ini telah memberikan warna tersendiri bagi kehidupan Pak Nur. Kesholihahan dan kesabarannya telah menghasilkan 1 putra dan 2 putri yang sehat lagi baik akhlaqnya di bawah bimbingannya.

Keshalehan Nur Azizah bukan hanya tampak dari raut wajah, aktivitas dan tutur katanya yang lembut, namun lebih jauh dari itu, ia adalah seorang hafidzoh (hafal 30 juz al-Qur’an), sebuah predikat ukhrowi yang Rasulullah menyebutnya dengan gelar Keluarga Allah. Dengan bekal inilah ia membina keluarga dan masyarakatnya. Ia bercengkrama dengan anak dan suaminya dengan nuansa al-Qur’an, melakukan muraja’ah (mengulang hafalan al-Qur’an) di sela-sela waktu sibuknya, membina tahsin dan tahfidz al-Qur’an bagi masyarakat, membina santri dan mahasiswa. Seluruhnya dilakukannya dengan nuansa al-Qur’an.

Dukungan al-Qur’an pula yang membuatnya termotivasi mendukung sang suami menerima tawaran Gus Dur kala itu untuk menjadi menteri. Dengan tekun dan ikhlas, pembina beberapa majelis ta’lim ini, menemani suami dalam memberantas korupsi di tubuh depertemen yang penuh dengan intrik politik itu.

Kini, sang suami kembali dipanggil untuk dicalonkan menjadi Walikota Depok, sebuah jabatan politik lagi, yang sebenarnya ditakuti olehnya. Namun, dengan semangat al-Qur’an yang dihafalnya itu, wanita sholihah ini membisikkan ke telinga sang suami tercinta, ”Majulah abangku, kami semua ada di belakangmu…”

Selamat berjuang ya Huffaadz…

Ramah, Sederhana dan Bersahabat dengan Rakyat kecil

Setiap orang yang mengenal Nur Mahmudi dari dekat akan mendapatkan kepribadian sederhana yang terpancar dari dirinya. Semasa menjadi menteri, Pak Nur tidak segan untuk berada pada shaf belakang dan minta dirinya tidak diutamakan walaupun menjadi pucuk pimpinan sebuah departemen yang besar. Senyumnya yang selalu terkembang membuat setiap orang merasa nyaman berada di dekatnya, siapapun dia. Tak jarang, ia menanyakan kabar keluarga para staf departemen dengan penuh perhatian dan memberikan tawaran solusi pada setiap permasalahan yang mereka ungkapkan

Setelah tidak lagi menjadi menteri, Pak Nur tetap tak berubah. Ia masih suka makan di warung tegal (warteg), mengisi ceramah dan berkarya untuk orang lain. Kepeduliannya yang besar terhadap nasib rakyat kecil, direpresentasikan dengan membina sebuah LSM bernama Institute for Science and Technology Studies atau ISTECS. Dalam lembaga kajian yang beranggotakan lebih dari 100 doktor ini, Pak Nur dan kawan kawan mencoba mengaplikasikan teknologi sederhana yang dapat digunakan untuk membantu kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Salah satu program yang menunjukkan keberpihakan beliau kepada rakyat kecil adalah program pembinaan kepada para petani tebu yang dizolimi pabrik-pabrik gula dengan praktek-praktek manipulasi. Pak Nur merekrut puluhan sarjana untuk mendampingi petani secara berkelanjutan, dari mulai pembibitan, penanaman hingga pengawasan. Hal itu dilakukan agar hak-hak para petani itu terpenuhi dan tidak dimanipulasi. Saat ini, petani tebu binaan Pak Nur mencapai ribuan orang. Mereka merasakan bantuan riil dalam pemberdayaan dan advokasi.

Kini, Walikota Depok

Pengalamannya di bidang pemerintahan, keberhasilannya memimpin salah satu departemen, kesederhanaan pribadinya, kepiawaannya dalam kepemimpinan, ketinggian ilmu dan keulamaannya menjadi alasan tersendiri bagi Partai Keadilan Sejahtera untuk mengajukan sosok Nur Mahmudi sebagai salah satu kandidat untuk memimpin Kota Depok.

Banyak orang bertanya, mengapa ia bersedia dicalonkan menjadi walikota yang berarti menurunkan derajatnya dari tingkat nasional ke tingkat loka? Dengan kesederhanaannya, beliau menjawab, ”Kholid bin Walid saja, seorang panglima utama pada masa kejayaan Islam, bersedia untuk menaati perintah sang khalifah, Umar bin Khattab, untuk sekedar menjadi prajurit. Jika menjadi Walikota Depok merupakan permintaan partai dan itu baik bagi kemajuan perpolitikan di Indonesia, kenapa saya tidak bisa taat seperti taatnya Khalid bin Walid? Menjadi menteri atau walikota atau bahkan rakyat biasa sekalipun, tidak menjadi soal yang berarti bagi saya. Yang menjadi soal adalah apakah dengan keberadaan dan posisi kita, kita bisa memberi manfaat buat sebanyak mungkin manusia?”

Sebuah jawaban menawan dari seorang negarawan…

Semoga Allah memberkahi dan memudahkan perjalanan ulama yang intelek dan intelek yang ulama ini menjadi pemimpin yang adil dan bermanfaat bagi seluruh umat.

Sumber : http://www.nurmahmudi.com/feature-nurmahmudi.html

You can leave a response, or trackback from your own site.